"Anyone who has never made a mistake has never tried anything new"
(Albert Einstein, 1879-1955)
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan Hidup. Tampilkan semua postingan

Impian Menjadi Pakar Proteksi Radiasi

Posted by Togap Marpaung 18.1.11, under | 1 comment

Pembekalan yang pernah diperoleh terkait Proteksi dan Keselamatan Radiasi Bidang Medik, diantaranya;
  1. mengikuti pendidikan di APRO, Jakarta, 1977–1978;
  2. mengikuti pendidikan di Fisika Proteksi Radiasi FMIPA UI, Jakarta, 1980–1988;
  3. mengikuti pendidikan PGD in Radiation Protection Malaysia, 2002–2003;
  4. mengikuti Pelatihan Inspektur Keselamatan Radiasi, oleh Batan dan Depkes, Jakarta, 1989;
  5. melakukan inspeksi di sejumlah rumah sakit di Indonesia, 1988 – 2001;
  6. mengevaluasi permohonan izin pesawat sinar-X untuk wilayah Indonesia timur, kedokteran nuklir dan radioterapi. Untuk radioterapi termasuk mengevaluasi perhitungan tebal dinding ruang radioterapi (Teleterapi Co-60 di RSUP Syaiful Anwar Malang, RSU Telegorejo Semarang, RSU Adi Husada Surabaya, dan Linac di RSU Kanker Dharmais Jakarta), 1988 – 2001;
  7. mengikuti ”demonstrasi” terkait pelaksanaan kendali mutu (quality control–QC) pesawat sinar-X di Military Hospital,Ottwa, Minestry of Health and Welfare, ketika mengikuti fellowship di Atomic Energy Control Board, Canada, 1993;
  8. mengikuti National Workshop on Radiation Protection and Quality Assurance in Diagnostic Radiology oleh Depkes, Batan, PDSRI dan IAEA, Jakarta, 1994;
  9. mengikuti Regional Workshop on System for Notification, Registration, Licensing and Control of Radiation Sources and Installations; BATAN dan IAEA, Jakarta, 1995;
  10. mengikuti The Workshop on QA In Diagnostic Imaging and Radition Safety in Medicine, National Workshop on Radiotherapy oleh Depkes, Batan, PDSRI, PARI dan IAEA , Jakarta, 1997;
  11. menjadi Nara Sumber pada Penyuluhan Peraturan, Seminar dan Workshop, di Indonesia, 1999–2002;
  12. mengikuti Seminar on QA in Diagnostic Iamging and Radition Safety in Medicine, oleh Depkes dan IAEA, Jakarta, 2000;
  13. mengikuti Diskusi Panel Kebutuhan dan Peningkatan Peran Fisikawan Medik di Indonesia, Jakarta, 2000;
  14. melakukan investigasi kecelakaan radiasi terkait peralatan radioterapi Linac di RSUD dr Sutomo 1998, Surabaya, 1999;
  15. melakukan investigasi kecelakaan radiasi terkait peralatan Brakhiterapi-Remote Afterloading di RSUP Persahabatan, Jakarta, 2000;
  16. mempelajari Work Book mengenai Compliance Testing of X-Ray Equipment Departement of Radiology, Wester Australia, yang diperoleh dari expert IAEA, Dr Sujit Day melalui Drs Arifin S. Kustiono, M.Sc, 2000;
  17. melakukan pendataan (data base) fasilitas radioterapi di Indonesia dengan mengunjungi seluruh rumah sakit yang memiliki layanan radioterapi, 2000;
  18. mendampingi Tim BATAN melakukan kalibrasi luaran terapi Co-60 di RSUP. Sarjito Jogyakarta, RSUD dr Sutomo Surabaya, RSUP dr Syaiful Anwar Malang, RSUD dr Pirngadi Medan, 2001;
  19. melakukan kajian keselamatan radiasi di fasilitas brakiterapi manual RSUD dr. Sutumo Surabaya, 2001    
  20. menulis buku dan beberapa makalah terkait proteksi radiasi di bidang medik, Jakarta 1999–2002 ;
  21. mengajar proteksi radiasi untuk peserta pelatihan Petugas Proteksi Radiasi dan staf Bapeten 1999–2002; 
  22. mengikuti pendidikan di UKM, khusus pelajaran medical exposure, 2002;
  23. mengerjakan special project PGD di HUKM, dengan judul Regulatory Aspect and Radiation Protection in Diagnostic Radiology Malaysia, 2002.
  24. mengikuti National Seminar on Medical Physics, Malaysian Association of Medical Physics (MAMP), Grand Seasond Hotel, Kualu Lumpur Malaysia, 2002
  25. mengunjungi tempat kerja Prof. DR. Kwan Hoong Ng (expert in medical physics) di Hospital UM, 2002;
  26. mengunjungi tempat kerja DR. MD Saion Salikin President of MAMP di MINT Bandar Baru Bangi, Selangor Malaysia, 2002; dan
  27. menggandakan beberapa buku pelajaran (textbook) yang sangat relevan, 2002, diantaranya:               a.  The Physics of Radiology, Harold Elford Johns & Jhon Robert Cunningham, Fourth Edition, 1992 b.  The Physics of Radition Therapy, Faiz M. Khan, Ph.D, Second Edition, 1992;dan                       c.  Physical Principles of Medical Imaging, Perry Spruwls,Jr,Ph.D., FACR Second Edition, 1995.
Kemauan dan bekal dasar sudah ada tinggal masalah dana. Untuk program magister sudah dibicarakan dengan baik antara Pak Ridwan dengan ketua jurusan pasca sarjana UKM, Prof. Dr Sukiman. Pendekatan ini dapat lebih mudah dilakukan karena hubungan pribadi yang sangat dekat antara dua tokoh tersebut. Pak Sukiman juniornya Pak Ridwan pada saat beliau berdua sedang tugas di Malaysia puluhan tahun yang lalu. Pak Sukiman berasal dari Indonesia namun sudah menetap lama dan menjadi warga negara Malaysia.

Ketika Pak Sukiman ditemui, beliau sangat ramah dan pada prinsipnya welcome. Syarat utama, pendidikan PGD tidak boleh nilai C dan ketentuan tersebut dapat dipenuhi. Ketentuan lain adalah wajib terdaftar paling kurang 1 (satu) tahun sebagai mahasiswa pasca sarjana dan mengambil beberapa pelajaran wajib. Mata pelajaran dan nilai PGD dapat ditransfer. Tugas akhir boleh dikerjakan di Indonesia. Ketika itu judul yang akan dikerjakan adalah “Regulatory Aspect of Radiation Safety in Diagnostic Radiology in Several Countries-Asean Regional”.

Biaya pendidikan dapat ditekan serendah mungkin karena sudah ada teman yang bersedia membantu tempat tinggal dengan biaya murah di Malaysia, Singapura, Thailand dan Philipina. Lamanya studi banding sekitar 3 (tiga) minggu untuk tiap negara kecuali Malaysia paling kurang sekitar 4 (empat) bulan sesuai ketentuan yang disampaikan Pak Sukiman. Rencana program pasca sarjana ini hanya sebagai “kendaraan saja” untuk tujuan memperoleh dana. Pada waktu itu, biaya pendidikan yang dikeluarkan untuk program pasca sarjana di dalam negeri nilainya bahkan bisa lebih mahal karena ditempuh dalam waktu paling kurang 2(dua) tahun.  

Sekembalinya mengikuti pendidikan PGD dari negeri jiran Malaysia, Pak Ridwan menyampaikan berita yang tidak menggembirakan, “kemungkinan Bapak tidak mempunyai kewenangan lagi di Bapeten, mengenai rencana pendidikan kamu, lihat situasi saja”. Sesungguhnya ada 2 (dua) Pimpinan Bapeten yang mendukung rencana tersebut dan keduanya adalah tokoh. Tokoh pertama adalah Pak Ridwan, ilmuwan berkelas internasional, pemimpin dan pendiri Bapeten. Beliau adalah Bapa (He was my Father). Sedangkan tokoh kedua adalah Pak Arifin, pakar proteksi radiasi. Beliau adalah pengajar proteksi radiasi di tingkat nasional dan salah satu tim proteksi radiasi ketika Reaktor Serba Guna (Multi Purpose Reactor) dibangun di kawasan Puspitek Serpong. Beliau adalah Guru (He was my Teacher).

Waktu terus berlalu hingga terjadi pergantian Kepala Bapeten, Dr. Mohammad Ridwan, M.Sc, APU diganti oleh Prof. Dr. Azhar Djaloeis. Beberapa bulan kemudian niat untuk melanjutkan pendidikan tersebut sempat diutarakan kepada Pak Djaloeis tetapi tidak ada respon. Apa daya, pendidikan ke jenjang degree dan studi banding agar impian dapat menjadi “Pakar Proteksi Radiasi” pupus sudah. Akhirnya pasrah saja. Meskipun tidak tercapai cita-cita tetapi komitmen “Proteksi Radiasi untuk Keselamatan Bangsa” tetap berkobar.

Satu hal yang membanggakan, ijazah PGD dapat disetarakan dengan S2 atau Spesialis 1 (Sp-1) oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Untuk mengurus kesetaraan ijazah ini harus dengan perjuangan keras karena pihak yang semestinya mempunyai kewenangan bukannya membantu malah mempersulit. Selanjutnya ijazah tersebut dapat digunakan menjadi persyaratan kenaikan pangkat hingga golongan IV/a oleh Badan Kepegawaian Negara RI.

Seiring dengan dunia kehidupan yang semakin tidak aman karena adanya ancaman (threat) dari orang yang berniat jahat (intruder) maka aspek pengawasan pemanfaatan sumber radiasi pengion menjadi semakin meluas. Perjalanan hidup yang tadinya sebagai insan pengawas keselamatan radiasi (radiation safety) merambah ke keamanan sumber radioaktif (security of radioactive source).


Pendalaman Proteksi Radiasi di UKM, Malaysia

Posted by Togap Marpaung 18.1.11, under | 3 comments

Sebelum mengikuti pendidikan Post Graduate Diploma (PGD) in Radiation Protection, pimpinan BAPETEN Dr. Mohammad Ridwan, M.Sc. APU, telah merintis program magister medical physics di Malaysia melalui bantuan IAEA. Pak Ridwan mempunyai jejaring yang sangat baik di IAEA karena pernah menjadi salah satu direktur di IAEA. Rencana pendidikan medical physics di Malaysia sesuai saran orang Malaysia yang bekerja di IAEA kepada Pak Ridwan.

Kabar baik ini segera ditindaklanjuti dengan mengontak Prof. DR. Kwan Hoong Ng, Chief of Department of Medical Physics, Faculty of Medicine University of Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Jawaban sang Profesor segera diperoleh melalui email. Prof ini sudah dikenal sebelumnya ketika ada pelatihan QA on Radiology Diagnostic yang disponsori oleh IAEA tahun 1995 di Jakarta. Namun, beberapa bulan kemudian diperoleh khabar bahwa IAEA tidak memberikan bantuan dana kalau untuk degree apalagi medical physics. Alasannya kuatir pindah kerja dari badan pengawas  (regulatory body) ke rumah sakit (end user).

Pada tahun berikutnya, IAEA mulai menyelenggarakan program diploma yang secara khusus didedikasikan bagi pengembangan SDM negara-negara anggota. Pendidikan PGD ini diselenggarakan bekerja sama dengan pihak universitas, badan litbang dan badan pengawas tenaga nuklir di suatu negara yang memenuhi kriteria. Negara penyelenggara untuk wilayah Asia adalah Malaysia dan wilayah afrika adalah Afrika Selatan. Program PGD dianggap paling tepat untuk pengembangan kompetensi SDM karena muatan pelajaran dirancang bagi peserta yang sudah bekerja, lebih banyak diarahkan terapan dibandingkan teori.Pendidikan PGD ini diikuti oleh peserta yang berasal dari instansi pemerintah negara di asia (Malaysia, Indonesia, Thailand, Philippina, Bangladesh, Pakistan, Srilanka, Vietnam, China, Myanmar, dan Mongolia). Pada saat pendidikan akan dimulai semua mahasiswa dan pihak UKM memberikan kepercayaan kepada mahasiswa yang berasal dari Indonesia sebagai penanggung jawab (koordinator) terkait kegiatan perkuliahan, fasilitas penginapan maupun kejadian apapun yang mungkin dialami setiap mahasiswa. Tugas tersebut adalah amanat. Pendidikan selama 1 (satu) tahun (Februari 2002 – 2003), terdiri dari 3 (tiga) semester dengan mata pelajaran, sebagai berikut:


Semua dosen dengan gelar akademis Dr (Ph.D) kecuali Encik Taiman, M.Sc tetapi dia adalah pakar di bidang dosimetri. Expert IAEA yang didatangkan sebagai dosen tamu juga sangat berkelas. Ada 4  (empat) orang  yang  mengajar  medical exposure,  terdiri dari 2 (dua) orang  Malaysia (Dr. MD Saion Salikin dan Dr Rozanna), sedangkan 2 (dua) orang lagi adalah expert dari Swedia dan Perancis. Dr Rozanna adalah dosen pembingbing ketika dilakukan tugas akhir (special project) program PGD. Beliau ditugaskan di Hospital UKM sebagai Medical Physicist yang bertanggung jawab  terhadap proteksi dan keselamatan radiasi.  

Bahan ajar yang dibahas untuk medical exposure meliputi: diagnostik, terapi dan kedokteran nuklir meskipun tidak secara mendalam. Salah satu materi penting yang dibahas adalah proteksi radiasi dalam radiologi diagnostik dan intervensional. Pertanyaan para praktisi medik, khususnya teman radiografer di radiologi diagnostik, yaitu: mengetahui dosis pasien tanpa alat ukur radiasi, terjawab sudah. Sebagai contoh, perkiraan besarnya dosis yang diterima pasien untuk pemeriksaan abdomen dengan proyeksi posterior-anterior (PA) atau lateral dengan pesawat sinar-X konvensional dapat dihitung secara matematis menggunakan rumus fisika. Dalam hal ini, besaran fisika (tegangan tabung puncak: kVp, kuat arus tabung: mA, dan s (second): waktu ekspos), luas lapangan penyinaran, jarak fokus ke film dan jenis tabung (1 fase atau 3 fase) diubah menjadi besaran radiasi (dosis: mGy). Demikian halnya menghitung dosis dengan pesawat sinar-X CT-Scan dijelaskan sekilas. Sayangnya hanya 2 unit (sks) untuk semua hal paparan medik. Topik lain adalah  potensi kecelakaan radiasi terhadap personil dan pasien di radiologi intervensional.

Satu lagi expert dari kantor IAEA Austria, Vienna, DR Geeta mengajar iradiator, diantaranya membahas penyebab terjadinya kecelakaan radiasi dan kedaruratan. Sedangkan pengajar lokal yang masuk kategori expert IAEA adalah orang Malaysia Dr Azali b. Muhammad mengajar kamera radiografi industri. Khusus untuk pelajaran ini, suasana kelas sangat berkesan ketika dibuat latihan, tidak satu orangpun yang jawabannya benar. Soalnya adalah “siapa yang dapat menentukan posisi sumber secara tepat sepanjang source cable apabila sumber macet atau tidak dapat dikembalikan ke dalam kamera pada saat pekerjaan radiografi ?”.    

Dalam rangka menambah wawasan dan pendalaman proteksi radiasi, kegiatan ekstrakurikuler berupa kunjungan lapangan dilakukan di Malaysia maupun Thailand. Ada 3 (tiga) tempat yang dikunjungi di sekitar Kuala Lumpur, yaitu: (1) Fasilitas Iradiasi Industri jenis mesin berkas elektron-MBE (electron beam machine) milik MINT Malaysia; (2) Gauging terapasang tetap di Petronas; dan (3) radiologi diagnostik; kedokteran nuklir dan radioterapi di Hospital University Sains Malaysia. Sedangkan kunjungan ke Thailand, ada 2 (dua) tempat, yaitu (1) Atomic Energy for Peace Thailand; dan (2) Fasilitas Iradiasi (Iradiator kategori IV) untuk sterilisasi di kawasan industri Bangkok. Semua mahasiswa ikut dan 3 (tiga) orang dosen dari UKM.

Ketika ada International Nuclear Conference, 15–19 October 2002, diselenggarakan di Malaysia, Pak Ridwan diundang sebagai pembicara dengan topik ”Regulatory Aspect of Nuclear Application and Radioactive Waste Management in Indonesia”. Ketika itu, pendidikan PGD di UKM masih berlangsung dan pihak UKM memberikan kelonggaran bagi mahasiswa yang ingin mengikuti seminar tersebut.

Pak Ridwan meminta datang ke hotel tempat penginapan beliau untuk mengurus Pertanggungjawaban Perjalanan Dinas ke Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur. Beliau memberikan ongkos taksi dan mengatakan “besok siang datang ke tempat seminar dan jangan lupa bawa Dokumen Bapak”. Betapa senangnya, ketika beliau menceritakan rencana kelanjutan pendidikan di UKM Malaysia, dari pendidikan program PGD ke pasca sarjana (degree master program). Di akhir pertemuan dengan Pak Ridwan, beliau mengatakan “temui Pak Sukiman”.

Selama perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Bandar Baru Bangi tempat dimana mondok para mahasiswa, mulailah dipikirkan bahwa ada kesempatan kedua. Kesempatan pertama gagal karena IAEA tidak mau membiayai untuk degrre, sedangkan kesempatan kedua akan dibiayai oleh Bapeten melalui dana APBN. Awal pencapaian sebagai pakar proteksi radiai mulai terbuka. Rencana kerja yang akan diajukan adalah melakukan studi banding mengenai keselamatan radiasi di bidang medik di Malaysia, Singapura, Thailand dan Philippina selama pendidikan magister.

Pengenalan Proteksi Radiasi di Jurusan Fisika FMIPA UI

Posted by Togap Marpaung 17.1.11, under | 1 comment

Pada tahun 1980 diterima di jurusan Fisika FMIPA UI. Ada beberapa pilihan bidang studi jurusan Fisika (proteksi radiasi, instrumentasi nuklir, geofisika dan fisika murni). Proteksi radiasi dan instrumentasi nuklir merupakan program kerja sama antara Batan dengan Fisika UI. Mulai tahun kedua ada tawaran beasiswa ikatan dinas dari Batan. Bagi mahasiswa yang memenuhi syarat maka uang kuliah mulai semester satu dikembalikan dan setiap bulan  dapat uang saku. Apabila sudah lulus wajib bekerja di BATAN.

Ketika mulai ada peminatan bidang studi, pilihan diputuskan proteksi radiasi. Mulailah belajar terkait proteksi radiasi yang meliputi banyak mata pelajaran, diantaranya proteksi radiasi, dosimetri, keselamatan radiasi lingkungan, efek biologi radiasi, higiene industri, biolologi anatomi, peraturan perundang-undangan tentang tenaga atom, fisika kesehatan, fisika reaktor dan limbah radioaktif ditambah praktikum-praktikum dan tugas akhir (skripsi) terkait radiasi. Dosen-dosen proteksi radiasi adalah peneliti senior atau praktisi lapangan maupun birokrat yang mempunyai kedudukan tinggi, diantaranya Pak Soekotjo Joedoatmodjo, Deputi Umum Batan. Beliau adalah tokoh nasional dan pakar keselamatan serta seorang yang sederhana. Kepakaran Pak Kotjo (panggilan akrab)  sangat dikagumi banyak orang meskipun hanya bergelar akademis tingkat Sarjana Muda Sains (Bachelor of Science-B.Sc). Pengabdian terakhir sang idola tersebut sebagai Ketua Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N) Kementerian Tenaga Kerja.

Selama kuliah, ada 2 (dua) kali kegiatan ekstrakurikuler dilakukan yang terkait program studi proteksi radiasi. Pertama kegiatan studi tour ke Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan Pusat Reaktor Atom Bandung. Tujuan kunjungan adalah menambah pengetahuan lapangan di bidang higiene industri dan nuklir. Dosen pendamping adalah  dr P. Sinaga, MPH yang mengajar higiene industri. Secara demokratis dipilih menjadi Ketua Panitia Studi Tour. Kedua kalinya juga studi tour ke Pusat Reaktor Kartini (PRK), dan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Angkatan yang lebih junior adalah Ketua Panitia dan sebagai senior ditunjuk Pembantu Umum. Tujuan kegiatan adalah studi banding kurikulum antara jurusan proteksi radiasi Fisika UI dengan jurusan Teknik Nuklir UGM serta diskusi dengan para peneliti di PRK. Teman-teman dari UI mendaulat senior sebagi pembicara ketika berlangsung diskusi panel di UGM. Dosen pendamping adalah Drs Arifin S. Kustiono, M.Sc yang mengajar proteksi radiasi.

Suatu hari, ketika sedang santai dengan salah satu sahabat dekat yang orangnya baik, pintar dan jujur (Darwin V. Silalahi) terjadi suatu perbincangan yang cukup serius. Dia menanyakan mengenai pilihan proteksi radiasi apakah sudah mantap. Kemudian dia mengutarakan bahaya radiasi serta budaya kerja orang Indonesia yang relatif kurang displin. Pandangan yang dia kemukakan merupakan “sugesti” yang kedua. Sugesti yang pertama mengenai ”mandul akibat radiasi” ketika sedang kuliah di APRO. Jawaban agak sedikit bimbang dengan mengatakan “sudah jadi pilihan hidup dan tidak pintar seperti kau”. Sahabat ini mengambil jurusan Geofisika dan begitu lulus langsung bekerja di perusahaan asing (British Petroleum) dan mendapat kesempatan kuliah bidang manajemen di Texas, USA. Sahabat DS ini pernah menjadi staf ahli dari Tanri Abeng, MBA, Menteri Negara BUMN dan saat ini sebagai orang nomor satu di perusahaan asing Shell Indonesia, jabatan Direktur Utama.

Pada tahun 1985 lulus sebagai sarjana muda (B.Sc) dan langsung diangkat sebagai staf di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Batan. Tiga tahun kemudian (1988), lulus sarjana dan pilihan bekerja di Biro Pengawasan Tenaga Atom (BPTA) Batan, yang tugas pokok dan fungsinya mengawasi pemanfaatan tenaga atom di Indonesia.



Memasuki Dunia Radiasi di APRO, Depkes Jakarta

Posted by Togap Marpaung 17.1.11, under | 1 comment

Memulai hidup baru dalam ”dunia radiasi” atau “medan radiasi” diawali pada tahun 1977 ketika masuk pendidikan Akademi Penata Rontgen (APRO) Departemen Kesehatan (Depkes), Jakarta. Lokasi kampus berada di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) dr. Cipto Mangunkusumo, Jl. Diponegoro No. 71, Jakarta Pusat. Letak ruang kuliah persis berada di belakang Bagian Radiologi dimana layanan radiologi diagnostik, radioterapi dan kedokteran nuklir diselenggarakan.

Pada saat dimulai Pekan Orientasi Studi Mahasiswa (POSMA) berupa perpeloncoan untuk mahasiswa baru, ada satu peristiwa yang tidak dapat dilupakan. Kejadiannya adalah salah satu senior memanggil nama panggilan tiap calon mahasiswa. Tanpa disadari, ternyata sudah dipanggil 2 (dua) kali. Nama panggilan sebagai calon mahasiswa (cama) adalah ”TUBE”. Cara membaca dalam bahasa Inggris saja tidak tahu, apalagi artinya. Boro-boro Bo! (I was being foolish at that time!). Ketika itu hanya mengingat tulisan satu kata ”TUBE” (baca :” tu – be”) yang dikalungkan di leher. Konsekuensinya, mendapat hukuman ”push-up” serta ditertawakan oleh para senior.

Kejadian tersebut membawa hikmah. Arti dan fungsi tabung mulai diketahui sedikit demi sedikit. Nama panggilan cama tersebut ternyata sedemikian kerennya. Tube berarti tabung yang merupakan bagian terpenting dari suatu sistem pesawat sinar-X. Fungsi tabung adalah alat yang dapat menghasilkan radiasi. Harga suatu tabung paling mahal dibandingkan komponen lainnya. Semakin canggih pesawat sinar-X, semakin mahal harga tabungnya. Sebagai contoh, pada saat ini harga satu unit tabung CT-Scan dapat mencapai miliyaran rupiah. 
  
Ada rasa kebanggaan pada diri dengan julukan tersebut sebab sedemikian banyak pihak atau kalangan yang mengetahui hal-hal yang terkait tabung. Diantara para pihak tersebut adalah profesi atau praktisi medik (diantaranya dokter, radiografer dan fisikawan medis), teknisi elektro medis, importir dan suplier serta akademisi diantaranya, Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Radiologi yang dulunya APRO atau ATRO, Poltekkes Teknik Elektromedik yang dulunya ATEM, dan Fisika Medik FMIPA serta birokrasi (diantaranya, Kemenskes dan Batan) cukup familiar dengan tabung.

Demikian halnya dengan insan pengawas keselamatan radiasi di BAPETEN (evaluator perizinan dan inspektur) wajib mengetahui fungsi dan spesifikasi teknik tabung. Dalam perspektif pengawasan, tabung pesawat sinar-X dapat dianggap sebagai sumber radiasi yang identik dengan zat radioaktif. Bapeten membuat sistem pengolahan data tabung sinar-X sebagai sumber radiasi,yaitu Bapeten Licensing and Inspection System (B@lis), meliputi: merk, tipe dan nomor seri dan tahun pembuatan, yang keseluruhannya dapat mewakili satu unit pesawat sinar-X.         

Setelah mengikuti perkuliahan lebih kurang 3 (tiga) bulan, tiba-tiba seorang teman yang lebih tua sekitar 3 (tiga) tahun memberi wejangan bahwa bekerja sebagai radiografer di radiologi dapat menjadi mandul. Ketika itu, pikiran agak terguncang. Bagi masyarakat awam, pemahamannya memang demikian dan hal itu sudah menjadi suatu stigma ”dapat mandul akibat radiasi”. Opini yang menakutkan bagi setiap pekerja radiasi.

Untuk mengetahui jawaban pasti secara ilmiah mengenai mandul belum diperoleh hingga akhirnya bangku kuliah di APRO ditinggalkan dengan perasaan sedih. Pada waktu itu pengetahuan mengenai efek radiasi belum diperoleh. Ilmu pengetahuan poteksi radiasi belum tersedia. Ketika itu, mata pelajaran yang relatif dekat dengan radiasi adalah fisika modern tetapi bahan ajar tersebut sama sekali tidak membahas sumber radiasi. Pengetahuan mengenai radiasi seharusnya diperoleh dari fisika radiasi bukan fisika modern. Pengetahuan sumber dan efek  radiasi merupakan bagian dari ilmu proteksi radiasi.