- mengikuti pendidikan di APRO, Jakarta, 1977–1978;
- mengikuti pendidikan di Fisika Proteksi Radiasi FMIPA UI, Jakarta, 1980–1988;
- mengikuti pendidikan PGD in Radiation Protection Malaysia, 2002–2003;
- mengikuti Pelatihan Inspektur Keselamatan Radiasi, oleh Batan dan Depkes, Jakarta, 1989;
- melakukan inspeksi di sejumlah rumah sakit di Indonesia, 1988 – 2001;
- mengevaluasi permohonan izin pesawat sinar-X untuk wilayah Indonesia timur, kedokteran nuklir dan radioterapi. Untuk radioterapi termasuk mengevaluasi perhitungan tebal dinding ruang radioterapi (Teleterapi Co-60 di RSUP Syaiful Anwar Malang, RSU Telegorejo Semarang, RSU Adi Husada Surabaya, dan Linac di RSU Kanker Dharmais Jakarta), 1988 – 2001;
- mengikuti ”demonstrasi” terkait pelaksanaan kendali mutu (quality control–QC) pesawat sinar-X di Military Hospital,Ottwa, Minestry of Health and Welfare, ketika mengikuti fellowship di Atomic Energy Control Board, Canada, 1993;
- mengikuti National Workshop on Radiation Protection and Quality Assurance in Diagnostic Radiology oleh Depkes, Batan, PDSRI dan IAEA, Jakarta, 1994;
- mengikuti Regional Workshop on System for Notification, Registration, Licensing and Control of Radiation Sources and Installations; BATAN dan IAEA, Jakarta, 1995;
- mengikuti The Workshop on QA In Diagnostic Imaging and Radition Safety in Medicine, National Workshop on Radiotherapy oleh Depkes, Batan, PDSRI, PARI dan IAEA , Jakarta, 1997;
- menjadi Nara Sumber pada Penyuluhan Peraturan, Seminar dan Workshop, di Indonesia, 1999–2002;
- mengikuti Seminar on QA in Diagnostic Iamging and Radition Safety in Medicine, oleh Depkes dan IAEA, Jakarta, 2000;
- mengikuti Diskusi Panel Kebutuhan dan Peningkatan Peran Fisikawan Medik di Indonesia, Jakarta, 2000;
- melakukan investigasi kecelakaan radiasi terkait peralatan radioterapi Linac di RSUD dr Sutomo 1998, Surabaya, 1999;
- melakukan investigasi kecelakaan radiasi terkait peralatan Brakhiterapi-Remote Afterloading di RSUP Persahabatan, Jakarta, 2000;
- mempelajari Work Book mengenai Compliance Testing of X-Ray Equipment Departement of Radiology, Wester Australia, yang diperoleh dari expert IAEA, Dr Sujit Day melalui Drs Arifin S. Kustiono, M.Sc, 2000;
- melakukan pendataan (data base) fasilitas radioterapi di Indonesia dengan mengunjungi seluruh rumah sakit yang memiliki layanan radioterapi, 2000;
- mendampingi Tim BATAN melakukan kalibrasi luaran terapi Co-60 di RSUP. Sarjito Jogyakarta, RSUD dr Sutomo Surabaya, RSUP dr Syaiful Anwar Malang, RSUD dr Pirngadi Medan, 2001;
- melakukan kajian keselamatan radiasi di fasilitas brakiterapi manual RSUD dr. Sutumo Surabaya, 2001
- menulis buku dan beberapa makalah terkait proteksi radiasi di bidang medik, Jakarta 1999–2002 ;
- mengajar proteksi radiasi untuk peserta pelatihan Petugas Proteksi Radiasi dan staf Bapeten 1999–2002;
- mengikuti pendidikan di UKM, khusus pelajaran medical exposure, 2002;
- mengerjakan special project PGD di HUKM, dengan judul Regulatory Aspect and Radiation Protection in Diagnostic Radiology Malaysia, 2002.
- mengikuti National Seminar on Medical Physics, Malaysian Association of Medical Physics (MAMP), Grand Seasond Hotel, Kualu Lumpur Malaysia, 2002
- mengunjungi tempat kerja Prof. DR. Kwan Hoong Ng (expert in medical physics) di Hospital UM, 2002;
- mengunjungi tempat kerja DR. MD Saion Salikin President of MAMP di MINT Bandar Baru Bangi, Selangor Malaysia, 2002; dan
- menggandakan beberapa buku pelajaran (textbook) yang sangat relevan, 2002, diantaranya: a. The Physics of Radiology, Harold Elford Johns & Jhon Robert Cunningham, Fourth Edition, 1992 b. The Physics of Radition Therapy, Faiz M. Khan, Ph.D, Second Edition, 1992;dan c. Physical Principles of Medical Imaging, Perry Spruwls,Jr,Ph.D., FACR Second Edition, 1995.
Waktu terus berlalu hingga terjadi pergantian Kepala Bapeten, Dr. Mohammad Ridwan, M.Sc, APU diganti oleh Prof. Dr. Azhar Djaloeis. Beberapa bulan kemudian niat untuk melanjutkan pendidikan tersebut sempat diutarakan kepada Pak Djaloeis tetapi tidak ada respon. Apa daya, pendidikan ke jenjang degree dan studi banding agar impian dapat menjadi “Pakar Proteksi Radiasi” pupus sudah. Akhirnya pasrah saja. Meskipun tidak tercapai cita-cita tetapi komitmen “Proteksi Radiasi untuk Keselamatan Bangsa” tetap berkobar.
Satu hal yang membanggakan, ijazah PGD dapat disetarakan dengan S2 atau Spesialis 1 (Sp-1) oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Untuk mengurus kesetaraan ijazah ini harus dengan perjuangan keras karena pihak yang semestinya mempunyai kewenangan bukannya membantu malah mempersulit. Selanjutnya ijazah tersebut dapat digunakan menjadi persyaratan kenaikan pangkat hingga golongan IV/a oleh Badan Kepegawaian Negara RI.
Seiring dengan dunia kehidupan yang semakin tidak aman karena adanya ancaman (threat) dari orang yang berniat jahat (intruder) maka aspek pengawasan pemanfaatan sumber radiasi pengion menjadi semakin meluas. Perjalanan hidup yang tadinya sebagai insan pengawas keselamatan radiasi (radiation safety) merambah ke keamanan sumber radioaktif (security of radioactive source).
